Tanya

Bagaimana pandangan Bang Petra mengenai relevansi peran Software Quality Assurance (QA) di era industri teknologi saat ini? Karena saya sebagai QA merasa, divisi QA kerap kali dipandang sebelah mata dan menjadi salah satu yang paling awal terdampak perampingan (layoff). Bagaimana peran ini bisa terus membuktikan nilai strategisnya agar tidak lagi dianggap sekadar pelengkap?

Jawab

QA itu bukan pelengkap, tapi salah satu prioritas paling tinggi di tim gw. Kalau ada perusahaan yg treat QA sebagai “checklist terakhir sebelum ship”, itu masalahnya bukan di role QA nya, tapi di cara perusahaan itu define value dari quality itu sendiri.

Ada dua layer yang perlu dibedain:

  1. Apakah output sesuai spec yg dikasih PM. Ini layer yg sekarang udah cukup doable buat diotomasi. Test case, regression, bahkan sebagian exploratory testing pun udah bisa dibantu tools & AI.

  2. Apakah output itu benar benar ngasih value ke end user/customer. Ini yg masih susah diotomasi, karena butuh empati, bukan sekadar validasi terhadap dokumen requirement.

Nah, layer pertama itu yg biasanya bikin QA gampang di layoff duluan, karena makin lama makin bisa digantiin tools. Tapi layer kedua ini yg justru jadi nilai strategis QA yg gak tergantiin.

Makanya gw selalu dorong tim QA di tempat gw buat turun langsung ketemu customer, ngobrol, empathic listening, & coba posisiin diri di sepatu customer pas evaluate design maupun output software.

Gw juga percaya, QA itu adalah gerbang ke customer/end user. Karena itu, di tim gw dulu, gw bahkan kasih otoritas penuh ke QA buat bisa halt release kalo masih ada issue, walaupun secara teknis udah sesuai spec.

Kenapa? Karena kalau QA cuma jadi validator yg suaranya bisa diabaikan pas ada tekanan deadline, ya wajar kalau role nya dianggap gak strategis. Tapi kalau QA punya otoritas buat bilang “stop, ini belum siap buat customer”, itu ngirim sinyal jelas ke seluruh tim bahwa quality itu bukan formalitas, tapi keputusan bisnis.

QA yg cuma mikir “sesuai requirement atau nggak” itu gampang digantiin. Tapi QA yg paham konteks bisnis, paham pain point user, punya otoritas buat halt release, & bisa bilang “ini secara teknis sesuai spec, tapi user bakal bingung/gak kepake” itu value nya jauh lebih tinggi & gak bisa diotomasi begitu aja.

Jadi kalau lo QA & ngerasa dipandang sebelah mata, coba geser fokus lo dari sekadar “verifikasi requirement” ke “advokasi buat customer”. Itu yg bikin lo relevan, karena lo jadi satu satunya orang di tim yg suaranya mewakili user, bukan cuma dokumen spec.