Tanya

Bang bagaimana caranya bisa dapet kesempatan kerja dengan teknologi berbeda yang digunakan di kantor? di kantor masih menggunakan selagi dan lowongannya sedikit, coba buat project dengan teknologi stack itu ditolak karena bukan product yang ada user benerannya

Jawab

Halo, ini common problem sih di tech scene Indonesia. Office lo masih pakai stack lama, lowongan buat stack baru sedikit, dan begitu coba bikin project portfolio buat skill baru, ditolak karena dianggap “toy project” tanpa real user.

Dari sisi gw yang udah review banyak kandidat, kondisi ini bukan dead end. Gw udah ketemu beberapa kandidat yang berhasil keluar dari situasi serupa. Pattern yang gw lihat konsisten satu hal: mereka invest waktu jauh lebih banyak dari yang kebanyakan orang mau kasih.

Project portfolio yang ditolak biasanya bukan karena stack-nya salah, tapi karena keliatan dibuat buru buru, cuma demo CRUD generic tanpa real problem yang dipecahkan. Reviewer bisa bedain project yang dikerjain serius selama beberapa bulan dengan real constraint (real data, real edge case, bahkan real user walau kecil) versus project akhir pekan yang dibuat cuma buat ngisi resume.

Jadi kalau lo serius mau pivot, saran gw: jangan bikin project demo. Cari masalah nyata, sekecil apapun scope-nya, dan selesaikan sampai ada orang lain selain lo yang benar benar pakai. Bisa temen, komunitas kecil, atau internal tool buat tim lo sendiri walau gak resmi assignment dari atasan. Itu yang bikin project lo punya bukti, bukan cuma klaim.

Gak ada shortcut di sini. Semua kandidat yang gw lihat berhasil pivot stack, mereka ngerjain ini dengan kerja keras dan waktu yang konsisten, bukan sprint dua minggu doang. Kalau lo niat serius, treat ini kayak komitmen jangka menengah, bukan task checklist buat lengkapin CV.