Tanya

di era AI ini, apa om petra ada perubahan terkait coding/take home test untuk interview? misal allow AI tapi problems dibikin sesulit mungkin? Apalagi ngeliat sample take home testnya Anthropic yg boleh dikerjain pake LLM karena dibikin sangat sulit. Kayak zaman kuliah, open textbooks tests mean harder problems lol.

Jawab

Gw actually suka kalo ada kandidat yg ngerjain interview assignment gw pake AI.

It’s inevitable anyway. Interview assignment gw skrg masih termasuk mudah untuk dikerjain pake AI. Tp gw lg mayan sibuk belakangan buat revisi.

Here’s I would probably do:

  1. Shift dari “Can you code?” ke “Can you solve and own this?”

Dari dulu model format gw selalu end-to-end test. Jadi a self-running program yg mana gw kasih sedikit run script.

Terus juga ada sedikit ambiguity. Karena konsep gw adalah “customer oriented” product engineering, makanya gw pengen introduce a bit ambiguity, biar gw bisa judge sedikit decision making processnya.

  1. Follow-up conversation jadi lebih penting.

Take-home cuma jadi starting point. The real test ada pas kita walkthrough the code. Misalnya gw pengen dia bahas logika pengambilan keputusannya, asumsi yg dibikin, etc.

  1. AI sebagai tool, bukan jawaban

Honestly, kalo kandidat bisa orchestrate AI effectively buat deliver solution yang solid, documented, dan production-ready dalam waktu singkat,, that’s actually a skill gw mau hire.

Yang jadi problem: kandidat yang copy-paste AI output tanpa understanding. Ketahuan banget pas live discussion.