Tech In Asia Jakarta 2017

Presentasi ini saya bawakan di Tech In Asia Jakarta pada 2017, waktu saya masih menjabat sebagai CTO UrbanIndo.com. Sesi ini membahas perbedaan antara kode buruk dan clean code — dari nama yang tidak bermakna, kode mati, method dan class yang membengkak, format yang tidak konsisten, duplikasi, hingga kode tanpa test — serta biaya produktivitas yang menumpuk kalau masalah-masalah itu dibiarkan.

Saya juga mengupas mengapa developer sering menghindari menulis clean code meski sudah tahu seharusnya bagaimana, lalu membahas praktik yang bisa dipakai langsung: TDD, code review, static analysis, pair programming, dan CI/CD. Bagian kedua menggeser fokus dari kode ke craft: menjadi clean coder sebagai bentuk software craftsmanship — passion, kepemilikan karier, latihan sengaja, dan Boy Scout Rule — serta etika manajemen waktu, negosiasi, dan kolaborasi. Saya tutup dengan menghubungkan Software Craftsmanship ke Agile Manifesto sebagai cara “mengangkat standar” di atas empat nilai Agile.

View on SpeakerDeck